Para petani tidak hanya dihadapkan persoalan anjloknya harga kelapa sawit, tapi juga langkanya pupuk bersubsidi. Sedangkan harga pupuk nonsubsidi melambung tinggi. Di tengah mahalnya pupuk nonsubsidi, petani juga dipusingkan dengan beredarnya pupuk palsu.

”Saat ini pupuk palsu beredar di pasaran. Harganya lebih murah dari pupuk pada umumnya,” kata Humas Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kecamatan Telawang Parlin Silalahi saat dibincangi Radar Sampit. Parlin mengaku sudah tiga kali mendapatkan pupuk palsu jenis NPK. Dari penampakan secara kasat mata, pupuk abal-abal ini mirip yang asli. Bentuk butiran mirip asli, bahkan aromanya juga mirip. 

”Tapi saat diaplikasikan di kebun, tidak membuat tanaman subur. Tidak ada perubahan pada tanaman,” kata Parlin. Dia pun mencoba bereksperimen dengan acara sederhana, yakni menaburkan satu genggam pupuk ke tanaman di dalam pot. ”Saya sengaja kasih banyak, ternyata tanaman di pot tidak mati. Seharusnya tanaman mati karena overdosis pupuk,” kata Parlin.

Dengan percobaan sederhana itu,  Parlin semakin yakin bahwa pupuk NPK yang dibelinya palsu. Dia pun mengembalikan pupuk yang masih utuh di dalam karung kepada penjualnya.

”Banyak warga yang mengalami seperti saya. Akhirnya mereka meminta kembali uangnya kepada penjual pupuk,” kata Parlin.

Harga pupuk yang diduga palsu itu di kisaran Rp 340 ribu per sak isi 50 kg. Sementara pupuk NPK yang asli sekitar Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu.

”Karena harganya murah, banyak petani yang membeli. Ternyata tidak berdampak apa apa terhadap tanaman,” kata Parlin. Dia berharap Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur mengawasi peredaran pupuk. Apalagi jika ada harga pupuk yang beda jauh dengan harga pada umumnya, perlu dilakukan pengecekan keasliannya.

”Kasian para petani. Kami sudah terpuruk karena harga sawit anjlok, sekarang dapat masalah pupuk palsu,” kata Parlin. (yit)